h. Potensi Pertanian & Perkebunan

Pengembangan Kawasan (Kluster) Hortikultura

Rabu, 04 Januari 2012

Hortikultura meliputi aneka sayuran dan buah-buahan serta tanaman hias yang merupakan komoditas yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi serta menjadi komoditas andalan Kab. Bandung serta Jawa Barat.

Daerah sentra produksi komoditas hortikultura di Kabupaten Bandung, terutama sayuran dan tanaman hias, umumnya terdapat di kawasan dataran tinggi yang memiliki jenis tanah andosol yang cukup subur, daerah tersebut meliputi; Kecamatan Cimenyan, Pangalengan, Kertasari, Pacet, Arjasari, Ciwidey, Pasirjambu, dan Rancabali. Komoditas yang paling banyak diusahakan meliputi; Kentang, Kubis, Wortel, Seledri, Bawang Merah, Cabe, Bloom Kol, Tomat. Selada, Sawi Putih, Sosin, Terung, dan sekarang strowberry.

Di beberapa daerah sentra produksi juga sudah diusahakan komoditas-komoditas ekslusif yang umumnya dipasarkan di pasar-pasar swalayan (super dan hypermarket), komoditas tersebut antara lain; Paprika, Tomat Cherry, Timun Jepang, Terung , Baby Corn Manis, Kobuca, Kailan.

Usahatani komoditas sayuran dan buah-buahan di Kabupaten Bandung umumnya sudah dilakukan dengan pendekatan agribisnis.  Beberapa petani/kelompok tani sayuran di Kecamatan Ciwidey bahkan sudah mampu menerapkan Good Agriculture Practises (GAP), Good Handling Practises (GHP), dan Good Manufacturing Practises (GMP).

Beberapa di antaranya (Kel.Tani Mekartani Jaya, Pandu Tani, Al-Ittifaq, dan ASB-Farm) pada tahun 2006 telah memperoleh pengakuan tingkat nasional (berupa penghargaan Menteri Pertanian RI) dalam kualitas produk sayuran. Input teknologi maju sudah banyak yang digunakan, terutama dalam subsistem pengolahan hasil.

Kondisi tersebut tidak lepas dari berbagai fasilitasi yang telah diberikan pemerintah,baik Pemkab. Bandung, Pemprov, dan Pusat (Deptan), mulai dari; Bimbingan Teknologi, Magang ke Jepang, Bantuan Alat Pengolahan Hasil (alat-alat pengolahan, cold storage, gudang, dsb) sampai dengan pemberian stimulan modal
   

Sebagaimana halnya  dialami oleh daerah lain Fenomena klasik yang selalu dialami oleh komoditas sayuran di Kabupaten Bandung adalah fluktuasi harga yang cukup tinggi.  Kondisi ini sebagian besar disebabkan oleh karakteristik produk sayuran yang perishable dan musiman serta pola tanam yang masih konvensional sementara itu pola permintaan konsumsinya relatif tetap.

Pola produksi musiman dapat dilihat dari adanya puncak tanam dan puncak panen sepanjang tahun.  Untuk puncak tanam sayuran di Kabupaten Bandung, sebagian besar para petani komoditas sayuran utama melakukan penanaman pada bulan-bulan Februari-Maret dan Oktober-Nopember dimana biasanya masih berlangsung hujan sehingga kebutuhan air bisa tercukupi. 



Saat ini Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bandung tengah memfasilitasi beberapa kelompok tani sayuran dengan sarana irigasi lahan kering berupa irigasi sprinkle dan irigasi tetes. Dengan adanya fasilitasi ini diharapkan para petani mampu mengusahakan sayuran secara off-seasson atau pada saat dimana curah hujan kurang mencukupi.

Penanganan masalah kontinuitas dan fluktuasi harga sayuran juga dilakukan dengan mengembangkan kerjasama usaha antara petani sayur dengan kelompok usaha rumah kemasan, melalui kontrak harga di muka.

Untuk mengatasi masalah kualitas, upaya yang telah dilakukan adalah pemberian bimbingan teknis, fasilitasi peralatan pengolahan hasil, dan penerapan standar mutu.

Lainnya